Berdiri Di Atas Emas Berjalan Tanpa Alas

Berdiri di Atas Emas, Berjalan Tanpa Alas: Kisah Papua dan Kekayaan yang Tak Selalu Terasa

Papua adalah tanah yang sering disebut sebagai “surga yang jatuh ke bumi.” Hutan hujan tropisnya lebat, pegunungannya menjulang, dan perut buminya menyimpan salah satu cadangan emas terbesar di dunia. Di wilayah pegunungan Mimika berdiri tambang emas raksasa yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, anak perusahaan dari Freeport-McMoRan. Tambang ini dikenal sebagai salah satu penghasil emas dan tembaga terbesar secara global.

Namun, di balik gemerlap angka produksi dan kontribusi ekonomi nasional, tersimpan ironi yang sering diungkapkan dalam kalimat puitis: “berdiri di atas emas, berjalan tanpa alas.”

Tanah Kaya, Rakyat yang Bertanya

Papua, khususnya wilayah sekitar tambang seperti di dekat Timika, menjadi simbol paradoks pembangunan. Sumber daya alam melimpah, tetapi sebagian masyarakat adat masih menghadapi tantangan mendasar—akses pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi yang merata.

Ungkapan “berjalan tanpa alas” bukan semata-mata gambaran fisik tentang kaki telanjang di tanah berbatu. Ia adalah metafora tentang keterbatasan: tentang warga yang hidup di tanah kaya raya, tetapi belum sepenuhnya merasakan manfaat kekayaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Emas dan Jejak Sejarah

Sejak ditemukannya cadangan emas dan tembaga dalam skala besar pada abad ke-20, Papua menjadi perhatian dunia internasional. Investasi besar masuk, teknologi canggih didatangkan, dan ribuan tenaga kerja terserap.

Kontribusi sektor tambang terhadap pendapatan negara dan daerah memang signifikan. Pajak, royalti, serta dana bagi hasil menjadi bagian dari struktur ekonomi nasional. Namun, pertanyaan yang terus muncul adalah: seberapa jauh kesejahteraan itu menjangkau masyarakat asli Papua?

Tantangan Sosial dan Lingkungan

Pertambangan skala besar selalu membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia membuka lapangan kerja dan membangun infrastruktur. Di sisi lain, ada dampak lingkungan, perubahan sosial, dan pergeseran budaya yang harus dikelola dengan bijak.

Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar sumber ekonomi. Tanah adalah identitas, warisan leluhur, dan bagian dari spiritualitas. Ketika tanah berubah fungsi, perubahan itu bukan hanya fisik—tetapi juga kultural dan emosional.

Menuju Keadilan yang Lebih Nyata

Harapan terbesar dari kekayaan emas Papua adalah terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Artinya:

  1. Pendidikan berkualitas untuk generasi muda Papua
  2. Layanan kesehatan yang mudah dijangkau hingga pelosok
  3. Infrastruktur yang membuka akses ekonomi lokal
  4. Penguatan hak dan peran masyarakat adat dalam pengambilan keputusan

Berdiri di atas emas seharusnya bukan lagi menjadi simbol ironi, melainkan simbol kebangkitan. Kekayaan alam Papua dapat menjadi fondasi untuk masa depan yang lebih adil, selama pengelolaannya melibatkan masyarakat setempat sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.

Papua mengajarkan kita bahwa kekayaan alam tidak otomatis berarti kesejahteraan. Emas bisa berkilau di dalam tanah, tetapi yang lebih berharga adalah bagaimana manusia di atasnya hidup dengan martabat.

Semoga suatu hari nanti, ungkapan “berdiri di atas emas, berjalan tanpa alas” berubah menjadi cerita tentang rakyat yang berdiri tegak bukan hanya di atas emas, tetapi juga di atas keadilan dan kesejahteraan yang nyata.

Post a Comment

0 Comments